1Sesaat sebelum pasukan Kane  mengalami penyergapan, Suku Monrest memperhatikan rombongan yang mengikuti mereka, dan melihat pakaian mereka yang sangat berbeda dengan penduduk yang ada di pulau itu. Mereka merasa rombongan yang mengikuti mereka sebagai ancaman.
"Bersiap! Kita akan menyerang mereka." Perintah salah satu pimpinan regu dengan suara pelan.
Melihat posisi rombongan lawannya sudah tepat di posisi, pimpinan pasukan regu kiri memberi instruksi menyerang. "Pasukan panah, serang!" Katanya dengan berbisik pelan sambil memberikan kode kepada pasukannya.
Pasukan panah menembakkan puluhan panah ke arah pasukan Kane diikuti pasukan regu kanan melakukan serangan.
Mendapatkan sergapan dari pihak musuh, Kane sebagai komandan pasukannya segera mengeluarkan perintah, sambil mengangkat perisai kecil yang terintegrasi di armor lengannya yang memantulkan beberapa panah yang mengarah padanya. "Balas serangannya!" perintahnya dengan nada tegas.
Lala selama di perjalanan, diam-diam berusaha melepaskan ikatan borgol elektromagnetik menggunakan keahlian teknisnya. Setelah berhasil, dia menunggu kesempatan untuk dapat menyelamatkan kakeknya dan melarikan diri.
Saat melihat pasukan Kane mengalami penyergapan, dia melihat peluang untuk melarikan diri. "Kakek, ikut aku! Ini kesempatan kita untuk melarikan diri," bisik Lala sambil menarik tangan kakeknya.
"Pimpinan, dua orang yang bersama mereka melarikan diri." Salah satu pasukan Monrest memberi informasi kepada pimpinan regunya. Namun sebelum pimpinan regu memberikan jawaban, terdengar suara ledakan di iringi suara teriakan panik dan kesakitan.
Pimpinan regu segera memperhatikan peperangan dan melihat benda yang dipegang oleh rombongan musuh ternyata senjata yang memiliki kekuatan luar biasa.
"Serang mereka bersamaan. Pasukan panah, serang terus!" Pimpinan regu memberikan perintah.
"Bagaimana dengan yang melarikan diri, pimpinan?" Tanya salah satu anggotanya.
"Abaikan tahanan mereka. Kita harus membasmi mereka secepatnya." Kata pimpinan regu sambil menunjuk ke arah rombongan Kane.
Pasukan Monrest akhirnya mengabaikan Lala dan Kakeknya karena dianggap tahanan, mereka melihat Lala tidak memegang benda apapun, sementara pria satunya terlihat tua dan dalam kondisi terikat.
Sementara itu, dengan kecepatan dan kelincahan sebagai ahli bela diri, Lala dan kakeknya bergerak dengan lincah di antara pasukan Kane yang sibuk bertarung. Lala melompat ke arah salah satu prajurit Monrest yang menyerang, memanfaatkan keributan itu untuk semakin menjauh dari pertempuran.
“Jangan menyerang mereka!” kata kakek, mengingatkan cucunya. “Biarkan mereka bertarung satu sama lain. Fokus untuk keluar dari sini!”
Lala mengangguk, melompat dengan ringan melewati akar pohon besar sambil menghindari serangan panah yang melesat. Salah satu prajurit Monrest yang berada di dekat mereka, mencoba menyerang, namun kakek Lala dengan cepat menjatuhkannya dengan gerakan memutar yang halus, mematahkan tombaknya menjadi dua.
“Hebat, Kakek,” gumam Lala, terkagum dengan kelincahan pria tua itu meskipun berada dalam situasi terikat.
Mereka terus melarikan diri, tapi jalan keluar tidak mudah. Beberapa prajurit Monrest yang lainnya mencoba menghadang.
“Berhenti kalian!” seru salah satu prajurit Monrest, mengacungkan tombaknya.
Namun Lala dan kakeknya tidak mundur. Dengan gerakan cepat, Lala menghindari serangan tombak, meraih tongkat kayu dari tanah, dan mengayunkannya dengan cepat ke kepala prajurit itu, menjatuhkannya dalam satu pukulan.
Kakeknya, di sisi lain, menggunakan gaya kungfu klasik untuk melawan prajurit lainnya. Ia bergerak dengan gesit, menangkis serangan kapak raksasa dengan sebatang kayu sebelum melompat, menendang dada lawannya dengan cukup kuat hingga prajurit itu terjatuh.
“Kita harus kabur dari tempat ini,” kata Kakek sambil menarik napas.
“Ya, kita tidak bisa terus bertarung. Kita harus pergi!” balas Lala.
Di tengah pertempuran, salah satu prajurit Kane berlari mendekati komandannya. “Komandan! Lala dan kakeknya kabur!”
Kane berhenti sejenak, menoleh dengan tatapan dingin. “Apa kau bilang?”
“Mereka melarikan diri! Kami melihat mereka menuju ke arah barat!”
Kane menggeram, matanya menyipit. “Mereka pikir bisa kabur dariku? Selesaikan pertempuran ini dengan cepat. Kita akan mengejar mereka segera.”
Namun, pasukan Kane terlalu sibuk menghadapi serangan Monrest. Kane sendiri harus memimpin pertempuran dengan tangan besinya, memastikan bahwa mereka tidak kalah di tempat itu.
Saat  Ruvan masuk ke medan pertempuran, Lala dan kakeknya sudah berhasil keluar dari area pertempuran. Mereka menemukan sungai kecil di tengah hutan dan menggunakannya untuk menyembunyikan jejak mereka.
“Kita harus terus bergerak,” kata Lala sambil memeriksa luka kecil di lengannya.
Kakeknya menatapnya dengan bangga. “Kau hebat, Lala. Tapi ini belum selesai. Kita harus menemukan ayahmu sebelum mereka menemukan kita.”
Mereka melanjutkan perjalanan menuju arah barat, mengikuti naluri mereka dan berharap menemukan Milo sebelum Kane berhasil menyusul mereka. Hutan yang lebat di sekitar mereka menjadi tempat perlindungan sementara, namun Lala tahu, bahaya masih mengintai di setiap sudut pulau ini.
Kembali ke pertarungan, Ruvan, yang melihat semua makhluk mutasinya tewas, menyadari bahwa situasinya menjadi semakin buruk. Dia memberikan isyarat agar pasukannya mundur, tapi Kane tidak memberinya waktu. Prajurit-prajurit Kane mulai melempar bom ke arah pasukan Ruvan yang tersisa, menciptakan ledakan besar yang menewaskan banyak prajurit dalam sekejap.
Jeritan dan teriakan mengisi udara, tubuh-tubuh bergelimpangan di tanah yang hangus
Ruvan, yang melihat pasukannya banyak yang tewas, memerintahkan tiga pemimpin regunya menghadap. Ketiga pria itu, dengan wajah penuh tekad, melangkah maju ke hadapan Ruvan.
“Kalian tahu apa yang harus dilakukan,” kata Ruvan sambil mengeluarkan sebuah botol cairan berwarna ungu dan sebuah batu meteor kecil yang tampak bersinar. “Kita tidak boleh kalah di sini.”
Ketiga pemimpin regu mengambil cairan yang sama beserta pecahan batu meteor tanpa ragu, lalu meneguknya bersama-sama. Mereka mengambil salah satu anggota mereka yang masih hidup dan terluka untuk dijadikan pengorbanan. Tubuh mereka mulai bergetar, otot-otot mereka membesar, kulit mereka berubah warna menjadi kehitaman dengan urat-urat hijau yang menyala. Cakar dan taring mulai tumbuh dari tubuh mereka, menjadikan mereka makhluk mutasi dengan kekuatan luar biasa.
“Waktunya menunjukkan kekuatan sebenarnya!” serunya dengan suara menggelegar. Mereka merasakan tidak cukup menggunakan kekuatan batu meteor seperti biasa untuk mengalahkan lawan mereka, sehingga mereka menelan beberapa batu meteor.
Ruvan yang ikut mengkonsumsi, tubuhnya berubah lebih besar daripada sebelumnya, dengan dua tanduk melengkung yang muncul di kepalanya. Matanya bersinar merah, penuh dengan kebencian.
“Komandan, mereka menjadi lebih kuat!” teriak salah satu prajurit Kane.
“Aku bisa melihatnya!” balas Kane sambil menembakkan laser ke arah Ruvan. Namun, serangan itu hanya membuat Ruvan mundur sedikit sebelum ia menyerbu ke arah Kane dengan kecepatan yang mengejutkan.
Ruvan meluncurkan pukulan keras ke arah Kane, tapi Kane berhasil menghindar dengan gerakan gesit. Ia membalas dengan melepaskan bom fragment yang meledak di kaki Ruvan, menciptakan kawah kecil di tanah dan melukai kakinya.
Namun, Ruvan hanya tertawa. “Itu saja yang kau punya? Kau pikir senjatamu bisa menghentikan aku?”
Kane tidak menjawab, tapi ia mengeluarkan pisaunya dan melompat ke arah Ruvan, mengincar lehernya. Ruvan memblokir serangan itu dengan tangannya yang sekarang sekeras baja, lalu melemparkan Kane ke belakang dengan satu gerakan.
Sementara itu, salah satu pimpinan regu yang telah bermutasi menyerang dengan kekuatan barunya. Kulitnya jadi bersisik tebal, memantulkan sebagian besar tembakan laser.  Di sisi lain, pimpinan regu bertanduk melancarkan serangan brutal dengan tangan kosong, berusaha mematahkan senjata prajurit Kane.
“Serang aku kalau kalian berani!” tantang salah satu pimpinan regu sambil tertawa.
Freya melesat ke arahnya, senjatanya memancarkan cahaya merah terang. “Berani? Kau pikir aku takut?” Ia melompat ke udara, mengayunkan serangannya tepat ke kepala pria itu.
Namun, serangan itu hanya membuat pria tersebut mundur sedikit. Ia membalas dengan pukulan gada yang hampir mengenai Freya, tapi Kael muncul tepat waktu, menarik Freya menjauh.
“Kerja tim, Freya!” Kael berseru. “Mereka tidak bisa dilawan sendirian!”
Di sisi lain, seorang pimpinan dengan tubuh bersisik bergerak cepat di antara pepohonan,  menyerang Lyra dan Darius. Sisiknya tampak keras, memantulkan sebagian besar tembakan laser. Ia menyerang dengan cambuk yang memiliki duri tajam di ujungnya.
“Lyra, hati-hati!” teriak Darius sambil mencoba melindungi Lyra dari serangan cambuk. Namun, cambuk itu mengenai bahunya, menciptakan luka yang dalam. Darius mengerang kesakitan tapi tetap berdiri.
